Sabtu, 26 Januari 2008

PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN USAHA AYAM KAMPUNG PETELUR

Latar Belakang

Jenis ayam kampung sudah dikenal sejak jaman kerajaan kutai pada saat itu, ayam kampung merupakan salah satu jenis persembahan untuk kerajaan sebagai upeti dari masyarakat setempat. Kaharusan menyerahkan upeti menyababkan ayam kampung selalu diternak oleh warga kampung dan menyebabkan ayam kampung tetap terjaga kelestariannya. Disamping itu, ayam kampung memang sesuai dengan selera masyarakat setempat. Kebiasaan beternak ayam kampung tersebutlah yang menyebabkan ayam ini mudah dijumpai diseluruh tanah air.

Sampai sekarang, sistem upeti dalam arti perpindahan barang (ayam kampung) dari desa ke kota masih tetap ada. Bedanya, saat ini perpindahan tersebut lebih bersifat bisnis. Bisnis ayam kampung memiliki peluang yang sanggat besar mengingat orang kota masih banyak yang mengkonsumsi ayam kampung atau telur yang di produksi di desa.

Tujuan

Dengan perencanaan dan pengelolaan usaha ayam kampung petelur akan menghasilkan ayam kampung yang berkualitas baik. Yang dilihat dari segi telur yang dihasilkan dan rasa yang lebih gurih dibandingkan dengan ayam lainnya.

Alasan kongkrit produk dipilih

  1. Ayam kampung lebih dikenal sebagai penghasil daging yang lezat.

  2. Telurnya kebanyakan dikonsumsi, dan karena kebutuhan telur ayam kampung yang terus meningkat.

  3. Bila dibandingkan dengan ayam ras, ayam kampung umumnya mempunyai ketahanan tubuh yang lebih kuat terhadap penyakit.

  4. Telur ayam kampung dapat dikonsumsi segar atau mentah sebagai campuran madu, susu, atau jamu dengan dalih untuk menambah vitalitas atau kebugaran tubuh.

  5. Telur ayam kampung juga banyak di gunakan dalam industri obat dan kosmetik.

Sumber Pendapatan

Ternak ayam kampung ini dapat menghasilkan keuntungan secara financial yang terbagi dalam berbagai segmen penjualan.

  1. Dijual dalam bentuk telur dan daging yang segar :

    1. Telur ukurannya seragam (normal, tidak terlalu kecil, atau terlalu besar). Bobot normalnya antara 35-40grm.

    2. Penjualan ayam dilakukan pada saat permintaan pasar untuk daging ayam sedang tinggi (misalnya pada saat hari raya idul fitri), harganya berkisar Rp 30.000-40.000. dalam perhitungan ini digunakan harga minimum yakni Rp 30.000/ekor tergantung dari besar kecilnya ayam.

Target Pemasaran

Target penjualan ayam dan telur diantaranya sebagai berikut :

  1. Pedagang pengumpul telur (dari skala kecil, menegah, sampai besar).

  2. Pedagang telur eceran di pasar-pasar

  3. Warung-warung kecil dan toko kelontong yang di dalamnya juga menjual telur ayam.

  4. Agen atau kios jamu.

  5. Koperasi yang mengadakan barang kebutuhan pokok bagi anggotanya.

  6. Rumah makan

  7. Penggusaha catering (jasa boga)

  8. Penjaja sayur mayur keliling

  9. Kantor-kantor atau perusahaan yang memberi makan karyawannya.

Deskripsi tentang pemeliharaan ayam kampung petelur.

Tahap pemeliharaan merupakan inti dari budidaya ayam kampung petelur. Tahap ini berisi perlakuan yang menyebabkan ayam kampung biasa menjadi ayam petelur. Sebab dalam keadaan biasa, ayam kampung otomatis akan menjadi ayam pedaging. Seandainya bertelur, yang dihasilkan berupa telur tetes yang telah dibuahi dengan jangka waktu yang lama antara periode bertelur. Akibatnya tidak efektif untuk usaha ayam petelur.

Aspek budidaya yang paling berpengaruh diantaranya adalah perkandangan sistem baterai, pemberian pakan yang cocok untuk petelur, dan penghilangan sifat mengeram dari ayam kampung, dengan demikian ayam kampung akan bertelur secara kontinu.

A. Pemeliharaan sebelum bertelur

Setelah memperoleh bibit yang baik untuk induk ayam petelur, usaha untuk mengarahkan ayam kampung menjadi petelur sudah mulai dilakukan. Bibit ayam kampung yang berumur sekitar 4 bulan mulai dimasukan ke dalam kandang baterai. Beberapa unsur pemeliharaan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut.

  1. Pada umur 3-4 bulan diberi pakan berupa pakan grower dan dedak. Kebutuhan pakan per ekor dalam sehari 50-60g dengan perbandingan 1 bagian pakan grower dan 3 bagian dedak. Selain itu, perlu ditambahkan hijauan sekitar 20% dari total pakan yang diberikan. Pakan diberikan dalam bentuk bubur berupa adonan bahan-bahan tersebut dengan air, diberikan 2 kali sehari.

  2. Pada umur 4-5 bulan pakannya diganti dengan sehari sebanyak 70-80 –g dengan pakan layer dan 2 bagian dedak. Selain itu, perlu ditambahkan hijauan sekitar 20% dari total pakan yang diberikan. Pakan diberikan dalam bentuk bubur, yakni berupa adonan bahan-bahan tersebut dengan air, diberikan 2 kali sehari.

  3. Selain pakan, pada umur 4 bulan ayam perlu diberi vaksin ND melalui suntikan.

Umumnya, jiak pembibitan dan pemeliharaan sebelum bertelur dilakukan dengan baik, ayam sudah mulai bertelur pada umur 5-6 bulan. Namun, jika membeli bibit di pasar, bibit ayam tersebut perlu beradaptasi dengan kandang baterai sehingga waktu bertelurnya mundur 2-3 minngu.

B. Pemeliharaan Selama Masa Bertelur

Memasuki umur 5 bulan (masa bertelur) pemberian pakan harus ditingkatkan lagi karena pada fase ini ayam memrlukan pakan lebih banyak. Pemberian pakan fase ini ayam memerlukan pakan lebih banyak. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari. Pakan diberikan dalam bentuk bubur yang merupakan adonan dari pakan layer, dedak, dan air. Untuk bertelur, perbandingan pakan layernya ditingkatkan menjadi 1:1 (satu bagian pakan, pakan layer dan satu bagian dedak). Dalam fase ini, seekor ayam memerlukan sekitar 90-100g/hari. Selain jenis pakan tersebut, perlu juga diberikan pakan hijauan sekitar 20%, yaitu 18-20g/ekor dalam sehari.

Pemilihan dalam jenis dedak perlu mendapat perhatian yang serius. Sebab kesalahan dalam memilih dedak akan menurunkan produksi telur. Jenis dedak yang diberikan adalah jenis dedak yang halus. Untuk membedakan halus tidaknya dedak dikepal kuat-kuat dengan tangan. Jika dedak halus, biasanya akan mengecil dan menggumpal padat. Sebaliknya, dedak kasar akan mengembang, tidak menggumpal padat, bahkan dapat menjadi hancur kembali.

Janis pakan layer yang digunakan adalah pakan layer untuk ayam petelur, bukan pakan layer untuk ayam pedaging. Kesalahan dalam memilih pakan layer pun akan menurunkan produksi telur. Bahkan, kadang-kadang ayam tidak mau bertelur karena cenderung menjadi ayam pedaging.

Untuk memudahkan penyediaan pakan, terutama dalam penentuan jumlahnya bisa digunakan takaran. Penimbangan cukup dilakukan sekali saja, selanjutnya hasil penimbangan tersebut digunakan sebagai pedoman takaran, misalnya dengan menggunakan ember plastik. Dengan demikian, tidak perlu bersusa payah untuk melakukan penimbangan setiap kali memberi pakan ayam.

Selain masalah pakan, yang juga perlu diperhatikan adalah menghilangkan kebiasaan ayam untuk mengeram. Dalam keadaan normal induk ayam kampung akan menghabiskan waktu untuk mengeram sekitar 3 minggu (21 hari). Hal ini tentunya kurang efektif untuk usaha ayam petelur.

Setelah bertelur 15-21 butir, ayam kampung biasanya memperlihatkan tanda-tanda akan mengeram. Pada sarang bertelur tradisional gejalanya tampak jelas. Sepanjang siang dan malam ayam duduk terus di posisi mengeram pada sarang bertelurnya. Pada kandang baterai, gejala ini tidak terlihat jelas sebab telurnya sudah tidak ada lagi di dalam kandang. Namun, masih ada tanda-tanda lainnya yang bisa diamati. Biasanya bulu dadanya rontok sehingga kulitnya terlihat botak. Ayam tampak gelisah yang ditandai dengan seringnya berkokoh. Fase mengeram ini sering kali disertai penurunan berat badan, jangger dan cupingnya tampak kisut serta pucat. Selain itu, kotorannya agak encer. Jika merasa terusik, bulu lehernya menjadi tegak denagn posisi akan mematur lawangnya.

Cara menghilangkan naluri mengeram pada ayam dapat dilakukan secara sederhana, yaitu dengan memandikan ayam secara rutin sehari dua kali, yaitu pagi dan sore selama 5 hari. Cara ini dilakukan agar suhu badan ayam yang meningkat selama masa mengeram dapat menurun sehingga masa mengeramnya dapat dihilangkan atau paling tidak dipersingkat.

Cara tersebut mudah untuk dilakukan, mula-mula sediakan air bersih di dalam ember, kemudian ayam dikeluarkan dari kandang baterai sambil dielus-elus kepala dan badannya agar tidak berontak. Ayam dimandikan dengan cara membasahi seluruh tubuhnya menggunakan air. Setelah seluruh badannya basah, ayam dikurung dan dijemur pada sinar matahari agar bulunya kering. Untuk merangsang gairah bertelur, sebaiknya ayam didekatkan dengan ayam pejantannya. Misalnya dengan melepas ayam tersebut pada kandang ram bersama ayam jantang.

Lima hari setelahnya, biasanya ayam sudah memperlihatkan gejala berakhirnya masa mengeram. Hal ini ditandai dengan ayam yang tampak tenang, tidak gelisah, dan tidak galak lagi. Setelah masa tersebut, ayam dikandangkan lagi. Dengan pemberian pakan yang baik, seminggu kemudian biasanya ayam sudah dapat bertelur kambali.

C. Peremajaan

Untuk menjaga kesinambungan usaha peternakan, peremajaan merupakan usaha yang mutlak perlu dilakukan. Apalagi kalau mengadakan pembibitan sendiri, peremajaan dilakukan jauh hari sebelum ayam memasuki masa apkir. Sebaiknya pada akhir bulan ke-6 telur calon bibit pengganti sudah menetes sehingga pada bulan ke-12 ayam pengganti telah berumur 6 bulan, sementara ayam petelur telah memasuki masa apkir. Dengan demikian, produksi telur berkesinambungan tanpa mengalami kekosongan.

Jika memilih bibit bariu dipasar, sebaiknya seluruh ayam pengganti dibeli pada akhir bulan ke-10 dengan demikian, ketika ayam petelur memasuki masa apkir, ayam penggati telah mulai bertelur. Memang dengan cara ini ada modal cadangan yang cukup besar untuk membeli bibit. Untuk intu, perlu disisihkan sebagian dari keuntungan penjualan produksi untuk pembelian bibit dan pengembangan usaha.

Lebih baik lagi kalau masa apkir ayam petelur tersebut dapat diatur pada saat daging ayam sedang melambung tinggi, misalnya pada saat lebaran. Pada hari lebaran,kebutuhan daging ayam kampung meningkat pesat.

D. Membuat Pakan Sendiri

Selain dengan cara langsung memberi pakan layer,sebenarnya pakan juga dapat dibuat sendiri.Hanya saja,bahannya tersedia disekitar peternakan sehingga kalau cukup waktu dan bahan tersedia banyak,pakan bisa dibuat sendiri dengan biaya yang lebih murah.Dalam membuat pakan juga perlu diperhatikan masalah efisiensi.Bisa saja ayam bertelur lebih banyak dengan pakan yang lebih baik,tetapi dari segi efisiensi belum tentu menguntungkan.Berikut adalah beberapa penilaian yang bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat pakan sendiri:

  1. bahan pakan yang digunakan sebaiknya bukan bahan yang banyak diperlukan untuk kebutuhan lainnya.Misalnya bahan yang juga dimakan manusia sehingga harganya bisa lebih mahal.contoh:penggunaan bahan pakan yang juga masih yang dimakan oleh manusia diantaranya kacang hijau,sorgum,dan jagung kuning.

  2. sebaiknya digunakan bahan pakan dari limbah pertanian,seperti dedak,bekatul, bungkil kedelai,dan bungkil kelapa.

  3. bahan pakan juga bisa diperoleh dari sisa-sisa makanan rumah tangga (dapur)yang tidak digunakan lagi,tetapi masih bisa makan oleh ayam.

  4. walaupun menggunakan bahan-bahan limbah atau sisa-sisa makanan,tetapi perlu diperhatikan agar bahan pakan tersebut masih baik(belum busuk atau tengik),tidak mengandung sumber penyakit,dan tidak mengandung racun.

  5. sebaiknya bahan pakan berharga murah dan tersedia banyak sehingga tidak kesulitan untuk mendapatkannya.

Pemberian pakan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi ayam agar dapat memproduksi tinggi.Dengan demikian,jenis pakan yang baik adalah yang paling sesuai dengan nilai gizi yang dibutuhkan oleh ayam.Ayam buras petelur dalam setiap kg berat badanya memerlukan 8g protein,3g lemak,dan 20-25g karbohidrat.Kandungan protein sebaiknya divariasikan antara protein hewani dan nabati,perbandingannya sekitar 1:2 (1 bagian protein hewani dengan 2 bagian protein nabati).Pakan yang diperlukan oleh seekor ayam pada umur produktif yang berbobot 2kg adalah sekitar 100/hari dengan kandungan protein sekitar 16-17%.

Dalam membuat pakan,terkadang kita dibatasi oleh ketersediaan bahan yang ada.hal ini menjadi bila kita juga tidak mengetahui bagaimana membuat pakan yang sesuai dengan kebutuhan gizi ayam dengan bahan yang telah tersedia.Oleh karena itu untuk memudahkannya,biasanya yang dijadikan patokan adalah jumlah kandungan protein dalam pakan tersebut,yaitu sekitar 17%.

Syarat Beternak Ayam Kampung Petelur

Setiap memulai suatu usaha tak terkecuali usaha dalam bidang peternakan ayam kampung petelur tentunya harus ada perencanaan terlebih dahulu. Perencanaan usaha dalam bentuk ayam kampung petelur idealnya diawali dengan pengadaan bibit. Hal ini penting untuk memperoleh bibit yang baik sehingga hasil yang didapatkan adalah berkualitas baik. Perolehan bibit ayam kampung petelur tersebut diantaranya adalah dengan cara :

  • Memelihara induk ayam

  • Membeli telur tetas

  • Memebeli DOC (day old chick) atau ayam umur sehari

  • Membeli bibit ayam dara

Dari berbagai macam perolehan bibit ayam kampung petelur tersebut seperti diatas didefenisikan antara lain sebagi berikut :

Permasalahan yang sering muncul dalam memulai usaha beternak ayam kampung petelur secara intensif adalah cara memperoleh bibitnya. Bibit ayam kampung relative lebih sulit diperoleh dibandingan bibit ayam ras. Perusahaan bibit ayam ras sudah banyak dimana-mana. Sedangkan pembibitan ayam kampung masih jarang dilakukan. Jadi, tidak heran masalah bibit sering menjadi faktor pembatas dalam pengembangan budi daya ayam kampung petelur.

Untuk memulai usaha ayam kampung petelur, diperlukan ayam betina berumur 5-6 bulan dan yang belum pernah bertelur (ayam dara atau dedara).

Pengadaan bibit dapat dilakukan melalui beberapa alternative sebagai berikut :

  1. Memelihara induk ayam

Melalui cara ini, induk dipelihara untuk memproduksi telur tetas. Masalahnya, dibutuhkan lahan dan biaya awal yang cukup besar. Pada tahap awal dieperlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan ayam dedara. Selain itu, diperlukan penguasaan cara memelihara induk ayam dan penetasan telurnya. Keuntunggannya, bisa diketahui mengenai proses pembudidayaan ayam kampung secara keseluruhan dan tidak tergantung pada kelangkaan ayam dedara di pasar.

  1. Membeli telur tetas

Cara ini membutuhkan waktu yang terlalu lama. Namun, masalahnya adalah, apakah ada peternak yang memproduksi telur tetas? Selain itu, jika kebetulan ada, apakah harganya relative murah dan mudah menguasai cara penetesan dan pembesarannya? Karena tanpa pengetahuan tersebut, upaya ini mengandung resiko yang cukup besar.

  1. Membeli DOC (day old chick)

Cara ini masih jarang di lakukan karena belum banyak pengusaha yang khusus memproduksi atau menjual DOC ayam kampung petelur. Berbeda dengan ayam ras yang banyak dijual dalam bentuk DOC. Namun, sekarang banyak pengusaha yang tertarik, apalagi tingkat permintaannya terus meningkat.

  1. Membeli bibit ayam dedara

Bibit ayam dedara bisa diperoleh dari pasar atau dari peternak ayam kampung yang khusus memproduksi bibit. Membeli dedara di pasar selain terbentur masalah ketersediaan modal, juga ketersediaan ayam dipasaran, sebab tidak selalu tersedia ayam dedara yang siap bertelur selain itu, ayam yang dibeli dari pasar perlu proses adaptasi didalam kandang baterai selama satu bulan.


PROYEKSI FINANSIAL DAN KEBUTUHAN MODAL

  1. Luas lahan yang digunakan adalah sekitar 54 m(9x6)m.

  2. Jumlah ekor ayam ± 100

    1. Biaya produksi

      1. Biaya investasi

        1. Bibit ayam umur 6 bulan, 100 ekor

@ Rp 35.000 Rp 3.500.000

b. Pembuatan Kandang

batere 100 kotak

@ Rp 15.000 Rp 1.500.000

Total biaya investasi………………..Rp 5.000.000


      1. Biaya operasional per tahun

  1. Pakan layer Rp 8.352.000

  2. Tenaga kerja Rp 900.000

  3. Penyusutan kandang

Untuk 5 tahun Rp 300.000

  1. Kematian 1 % Rp 35.000

  2. Vaksin dan Jamu Rp 132.000

Total Biaya Operasional…………..Rp 9.719.000

  1. Diasumsikan untuk memelihara ayam kampung petelur dari bibit dara diperlukan 1 kotak untuk 1 ekor ayam.

  2. Harga pakan layer Rp 2.900/kg, kebutuhan pakan untuk ayam kampung petelur adalah 80 g/hari atau 0,08 kg/hari, perhitungan untuk 100 ekor selama 1 tahun adalah 100 ekor x 0,08xRp 2.900x360 = 8.352.000

  3. 1 orang tenaga kerja mendapat bayaran Rp 750 untuk merawat 1 ekor ayam dalam 1 tahun adalh 100xRp 750x12 = Rp 900.000

  4. Biaya penyusutan kandang per tahun adalah Rp 1.500.000 (biaya pembuatan kandang) : 5 tahun = Rp 300.000

  5. Kematian ayam dara (usia 3 bulan ke atas) sebesar 1%xRp 3.500.000 (harga investasi ayam dara) = Rp 35.000

B. Nilai Produksi

    1. Penjualan telur ayam, dengan asumsi

nilai produksi telur rata-rata/hari dari

100 ekor ayam adalah 35% = 35 butir telur

(90%x100 ekor x Rp 800 x 360 ) Rp 10.080.000

    1. Penjualan ayam apkir

(induk yang sudah tidak

Mampu memproduksi telur)

Sebagai ayam pedaging

(90% x 100 ekor x Rp 30.000 ) Rp 2.970.000

Jumlah Nilai Produksi…………………………….Rp 13.050.000

C. Keuntungan

Keuntungan = Nilai produksi/tahun-biaya operasional/tahun

= Rp 13.050.000 – Rp 9.719.000

= Rp 3.331.000 (per tahun)

= Rp 277.583,33 (per bulan)

= Rp 9.252,77 (per hari)

Keterangan :

  • Harga telur ayam kampung di tingkat peternak bervariasi antara Rp 800-Rp1200 per butir, tetapi dalam perhitungan ini dipakai harga terendah yaitu Rp 800.

  • Oleh karena kematian ayam dara usia 3 bulan ke atas diperkirakan hanya 1%, ayam apkir yang dapat dijual sebesar 99%.

  • Penjualan ayam apkir dapat dilakukan pada saat permintaan pasar untuk daging ayam sedang tinggi (misalnya, pada saat hari raya idul fitri), harganya berkisar Rp 30.000-Rp 40.000. dalam perhitungan ini digunakan harga minimum yakni Rp 30.000.



Tidak ada komentar: